Kerentananketahanan Pangan Wilayah dan Hubungannya dengan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani dalam Konsep “Wellbeing”

Muhammad Yamin, Nurilla Elysa Putri, Eka Mulyana

Abstract


Gambaran kondisi kerentanan ketahanan pangan ditingkat wilayah dan rumahtangga sehingga mampu memberikan rekomnedasi dalam upaya peningkatan kesejahteraan rumahtangga petani serta peningkatan ketahanan pangan wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai tingkat kerentanan ketahanan pangan wilayah Sumatera Selatan, mengukur welllbeing melalui tingkat kesejahteraan objektif dan kesejahteraan subyektif keluarga petani sawah di Sumatera Selatan, memberikan rekomendasi upaya antisipasi kerentanan ketahanan pangan dan peningkatan wellbeing petani sawah di Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode survey, data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data skunder.  Metode Analisis data yang dilakukan terdiri dari analisis Kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan melakukan penilaian tingkat komposit terhadap tingkat kerawanan pangan wilayah, selanjutnya dilakukan pengukuran objective wellbeing dan subjective wellbeing. Provinsi Sumatera Selatan berada pada kondisi tahan pangan, dimana nilai IFI berada pada range 0,00-0,43 yang memunjukkan bahwa di daerah ini belum rawan pangan, akan tetapi masih berada pada prioritas 4 dan 5 yang menunjukkan adanya potensi rawan pangan. Indeks komposit tertinggi yaitu di Kabupaten Banyuasin dan OKU Selatan serta OKU Timur.Berdasarkan Objective wellbeing diperoleh hasil bahwa petani yang memiliki pendapatan perkapita diatas garis kemiskinan di Desa Kayuara Batu sebesar 56,67 persen, sedangkan petani yang memiliki pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan sebesar 43,33 persen. Petani yang memiliki pendapatan perkapita diatas garis kemiskinan  18,51 persen, sedangkan petani yang memiliki pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan sebesar 81,49 persen. Skor total kesejahteraan subjektif petani padi di Desa Kayuara Batu memperoleh skor 2,84 dan Desa Segayam memperoleh skor 2,62 artinya secara keseluruhan kesejahteraan subjektif termasuk kriteria baik. Hal ini membuktikan petani puas terhadap kehidupan personal dan sosial, bahagia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan memiliki makna dalam hidupnya. Berdasarkan perhitungan yang sudah dilakukan diperoleh  hitung sebesar 0,201, nilai positif yang didapatkan artinya hubungan antara variabel pendapatan total dan kesejahteraan subjektif searah, dimana peningkatan pendapatan bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan subjektif Nilai signifikansi 0,314 > 0,05 maka tidak terdapat hubungan yang siginifikan antara pendapatan total dan kesejahteraan subjektif


Keywords


Kerentanan, Ketahanan Pangan, objective, subjective, Wellbeing

Full Text:

PDF

References


Astuti. 2017. Pemetaan Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Kecamatan Banjarmasin Selatan. Jurnal Pendidikan Geografi, 4(2) : 20-34.

Boer, R and Meinke, H. 2002. Plant Growth and the SOI, in Will It Rain? The effect of the Southern Oscillatioon and El Nino in Indonesia. Department of Primary Industries Qweensland, Brisbane Australia

Basrowi dan Juariyah. 2010. Analisis Kondisi Sosial Ekonomi dan Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Srigading Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, 7(1) : 58-81

Fitriani. 2016. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kecil Di Desa Poncowarno Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2015. Skripsi. Lampung : Universitas Lampung.

Hahn, B. Micah, Anne M. Riederer, and Stanley O. Foster. 2009. The Livelihood Vulnerability Index: A Pragmatic Approach to Assessing Risks from Climate Vulnerability and Change – A Case Study in Mozambique. Global Environmental Change doi: 10.1016/j.gloenvcha.2008.11.002.

Hanani, Sujarwo, Asmara R. 2015. Indikator dan Penilaian Tingkat Kerawanan pangan Kelurahan untuk daeraha perkotaan. Agrise, Vol 15, No 2(2015), 1010.

Hidayat, P. 2016. Pengaruh Tekanan Ekonomi dan Strategi Hidup Dimensi Ekonomi Terhadap Kesejahteraab Subjektif Keluarga Petani. Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor

Husaini, M. 2012. Karakteristik Sosial Ekonomi Rumah Tangga dan Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Agribisnis, 2(4) : 320-332.

Keho. 2015. Kerawanan dan Ketahanan Pangan. Kehotanjung.Blogspot.com (diakses 8 Maret 2018)

Lontoh, J.V. 2016. Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan di Sekitar Kawasan Reklamasi di Kecamatan Sario Kota Medan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pengelolaan Sumberdaya Pembangunan, 2(20) : 143-160.

Mulyo,J.H., Jamhari, Aw. Utami, Mi. Makruf Dan Sugiyarto. 2009 A. Studi Identifikasi Kerawanan Pangan Di Kabupaten Pemalang

Muflikhati et all. 2010. Kondisi Sosial Ekonomi dan Tingkat Kesejahteraan Keluarga : Kasus di Wilayah Pesisir Jawa Barat. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 3(1) : 1-10.

Nasirotun, S. 2013. Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi dan Pendidikan Orang Tua Terhadap Motivasi Melanjutkan Pendidikan Ke Perguruan Tinggi Pada Siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi IKIP Veteran Semarang, 1(2) : 15-24.

Nurcholis, H. 2010. Teori dan Praktik Pemerintah dan Otonomi Daerah. Jakarta : PT. Grasindo.

Puspitawati, H. 2015. Gender dan Keluarga : Konsep dan Realitas Di Indonesia. Bogor : IPB Press.

Puspitasari, N. 2012. Peran Gender, Kontribusi Ekonomi Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga Petani Hortikultura di Desa Sindangjaya Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur. Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Rustiadi Et al. 2011. Perencanaan Dan Pengembangan wilayah. Crespent Press dan yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta.

Suandi et all. 2014. Hubungan Karakteristik Kependudukan Dengan Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Jambi. Jurnal Piramida, 10(2) : 71-11




DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2019.003.03.5

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 J E P A

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.