Menentukan Kondisi Ketahanan Pangan Jawa Barat Wilayah IV Menggunakan Food Security Quotient (FSQ)

Rakha Zahra Raihan, Roni Kastaman, Tensiska Tensiska

Abstract


Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan mempunyai 3 indikator penting yaitu ketersediaan pangan, akses pangan serta mutu pangan. Ketersediaan pangan artinya pangan harus tersedia dari sumber alami baik melalui produksi pangan, penggarapan lahan atau peternakan, atau dengan cara lain untuk memperoleh pangan, seperti memancing, berburu atau mengumpulkan makanan. Akses pangan artinya akses ekonomi dan fisik kepada pangan harus dijamin. Aksesibilitas ekonomi berarti harga pangan harus terjangkau. Mutu pangan artinya pangan tersebut harus bergizi dan kondisi masyarakatnya yang dapat menyerap gizi dari pangan itu sendiri. Food security quotient (FSQ) merupakan modifikasi dari metode Location quotient (LQ) yang dapat mentukan komoditas basis agar dapat memilih memilah variabel yang diprioritaskan dan tidak diprioritaskan namun menggunakan variabel yang berpengaruh pada 3 indikator ketahan pangan tersebut. Rata – rata kondisi ketahanan pangan Jawa Barat Wilayah IV berada pada kondisi tahan pangan dengan nilai FSQ 0,951. Daerah dengan kondisi sangat tahan pangan yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sumedang. Daerah dengan kondisi tahan pangan yaitu Kabupaten Ciamis, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Pangandaran, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar. Namun jika ditilik lebih dalam, masih banyak variabel – variabel dari daerah – daerah tersebut yang masih butuh penanganan dan strategi untuk menunjang ketahanan pangan.


Keywords


Ketahanan Pangan, Ketersediaan, Akses, Mutu, Jawa Barat IV

Full Text:

PDF

References


BPS Provinsi Jawa Barat. (2018). Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Barat 2018.

BPS Provinsi Jawa Barat. (2018). Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2018 (2018th ed.). Badan Pusat Statistik.

Hendayana, R. (2003). Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) dalam Penentuan Sektor Basis Komoditas Unggulan. Informatika Pertanian, 12(March), 57–70.

Kemenkes RI. (2017). Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017, 140. http://doi.org/10.3870/tzzz.2010.07.001

Nasir M,. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta

PP No 17 Tahun 2015. (2015), 1–46.

Soepono, P. (2001). TEORI PERTUMBUHAN BERBASIS EKONOMI (EKSPOR) : Posisi Dan Sumbangannya Bagi Perbendaharaan Alat-Alat Analisis Regional, 16(1), 41–53. http://doi.org/10.22146/jieb.6802




DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2020.004.01.7

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 J E P A

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.